Kamis, 14 April 2011

Pada Senja itu



Semburat warna jingga di langit menyeruak dan bermekaran menandakan waktunya burung-burung kembali ke sarang. Suara bising kendaraan yan berlalu lalang semakin keras terdengar, dentuman klakson mencerminkan kendaraan yang sudah tak sabar untuk sesegera mengakhiri perjalanan. Tempat itu porak poranda, buku-buku yang hangus terbakar hanya menyisakan debu  yang berterbangan dihempas angin sore. Gadis kecil itu masih mengenakan  raut muka kesedihan dan kemarahan. Sedari tadi siang ia hanya mengalirkan air mata tanpa kunjung henti, kini matanya terlihat sayu dan sembam. Pipinya yang belepotan arang yang bercampur air mata tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sesekali ia hanya mengorek timbunan bakaran itu, berharap barangkali ia masih mendapati lembaran-lembaran kertas yang tak ikut terbakar. Kemudian ia kembali merenung, rambut sebahunya yang kemerah-merahan karena sering tersengat matahari, ia biarkan diterpa angin sore yang bercampur asap knalpot. Dalam hatinya berharap anginpun iku menerbangkan kesedihannya kini.
Disisi lain keributan besar tampaknya baru saja  terjadi, bebatuan berlumuran darah bereceran di jalan. Pemblokiran tengah terjadi, Nampak police line membatasi jalanan itu. Preman jalanan digelandang polisi, pekikan sirine ambulan meraung-raung memecahkan langit jingga sore itu, memudarkan kerumunan yang dari tadi terus merayap dijalan raya.
            Udin, terbaring lemah di ruang ICU, seluruh tubuhnya tak dapat merasakan apa-apa, hambar, untung saja nadinya masih berdenyut, meskipun tak beraturan. Cairan infus mengucur tetes demi tetes ke dalam tubuhnya. Mahasiswa semester 5 Fakultas hukum di sebuah Perguruan Tinggi itu terluka parah dalam peristiwa sore hari itu, seakan semua darahnya muncrat dari tubuhnya, tulang-tulangnya remuk, syaraf-syarafnya putus. Benar-benar mengerikan peristiwa sore itu, terkadang manusia justru lebih buas dari binatang buas..
            Peristiwa itu berawal ketika Udin bersama beberapa teman aktifis sosial hendak mengajarkan beberapa mata pelajaran layaknya sekolah formal kepada anak-anak jalanan. Sebuah bangunan kumuh di pinggir kali tak jauh dari jembatan layang Semboja telah disulap menjadi sebuah bangunan sekolah, meski tak layak disebut bangunan sekolah. Ya, ini adalah sekolah yang didirikan Udin bersama teman-temannya sesama  aktifis sosial. Memberikan peluang agar anak-anak yang tumbuh diantara kepenatan jalan raya dan asap knalpot yang tiap hari mereka hirup untuk merasakan pendidikan sekolah adalah tujuan Udin untuk membalas budi karena dirinya kini bisa merasakan bangku pendidikan.
Siang itu,ruangan tempat yang hendak didatangi Udin dan teman-temannya telah penuh dengan anak-anak jalanan yang ingin belajar  Tiba-tiba segerombolan preman datang dan mengacak-acak seisi bangunan sekolah itu, buku-buku dibakar habis, anak-anak lari terbirit-birit ketakutan.  Hanya Rika yang tetap ditempatnya, ia hanya bisa menyaksikan preman-preman itu merusak dan mengobrak-abrik tempat ia belajar. Terdengar suara keributan dari sini, entah dari mana asalnya yang jelas itu tak jauh dari sini.
“ Mau apa kalian?”, pekik Udin kepada preman-preman yang menghadangnya di tengah jalan dekat rel kereta api tak jauh dari jembatan layang.
“ Jangan belagak tak tahu salah Din, kau ini dulu teman kami, tapi lihat sekarang kau bergaya menggurui kami, apa Kau tak tahu akarmu dari mana?” ujar Kardi, salah satu preman tersebut.
“Iya, Aku tahu”, Jawab Udin
Memang, Udin dulu juga tumbuh sebagai anak jalanan, tapi ia lebih beruntung dari teman-temannya yang lain sesama anak jalanan. Dengan ketekunannya dan kegigihannya untuk belajar di Sekolah Anak Jalanan yang waktu itu  berdiri, Ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk mengenyam pendidikan di sekolah formal. Oleh karena itu , ia dapat menyandang predikat sebagai seorang mahasiswa. Sedangkan teman-temannya yang lain tidak kuat untuk bermimpi terlalu jauh, beban kehidupan sebagai seorang anak yang tumbuh di jalanan sangat berat untuk mereka jalani. Tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuat mereka banyak yang  berperilaku negatif. Berbeda dengan Udin yang sadar dengan keberadaannya sebagai seorang anak yang berhak untuk menerima pendidikan tidak berbeda dengan anak-anak lain yang juga mempunyai potensi dan bakat yang dapat dikembangkan. Buku yang pernah ia baca dulu terekam jelas dalam memorinya, memang pada masa anak-anak seperti itu otak yang memuat 100-200 milyar sel otak siap dikembangkan serta diaktualisasikan untuk mencapai tingkat perkembangan potensi tertinggi dan  pada perkembangannya, otak manusia mencapai kapasitas 50 % pada masa anak usia dini. Setidaknya itu yang pernah  ia pelajari.
“ Berarti, kamu tahu apa yang aku maksud kan? Pendapatan kami berkurang gara-gara sekolah bututmu itu?”, ujar preman lain yang dulu juga teman sebaya Udin.
“Apa kalian tidak mau anak-anak itu mendapatkan pendidikan? Kenapa kalian menghalanginya?”, Udin dengan tegas menjawab mereka, meskipun tubuhnya telah dihantam beberapa pukulan keras, hingga rasa sakit dan sesak terasa di dadanya.
“Jangan belagak peduli Kau,  bagi kami hidup kalo tidak mendapat uang, lebih baik mati saja dan Kau telah merampas uang Kami”, Kardi semakin geram.
“Kalian akan kulaporkan polisi jika mengancam kami”, celetuk salah satu teman Udin yang malah membuat preman-preman itu membabi buta menghajar Udin.
Pukulan demi pukulan terus saja mendarat di tubuh Udin, lontaran-lontaran batu mengenai sekujur tubuhnya. Sedang teman-teman Udin yang lain hanya bisa menyaksikan kawannya itu diremuk-remuk. Salah satu dari mereka berhasil mencuri kesempatan untuk memanggil polisi, selang beberapa saat polisi datang dan berhasil meringkus beberapa preman termasuk Kardi.
            Keadaan Udin sangat memprihatinkan, seluruh tubuhnya berlumuran darah, sesegera mungkin ia dilarikan ke rumah sakit. Mobil ambulan yang telah datang, cepat-cepat melaju di atas aspal yang disesaki oleh  kendaraan-kendaraan. Anak yatim piatu ini memang malang nasibnya. Entah akan berapa lama ia akan terbaring di rumah sakit, yang jelas kondisinya saat ini ada di ujung tanduk.
***
Terdengar sayup bunyi kerincingan yang terkalahkan dengan suara bising kendaraan lamat-lamat  juga terdengar lirihan lagu dari bibir kecil seorang anak perempuan. Rambutnya seperti rambut jagung, kulitnya gosong terbakar sinar matahari. Telapak tangannya yang mungil menepuk nepukkan kerincingan dari tutup botol bekas yang di pakukan pada sebatang kayu. Tas  usang yang terbuat dari karung  beras pun nampak menyelempang di bahunya. Berisikan kaleng bekas dan beberapa lembaran kertas serta koran-koran bekas terlihat memenuhi tas nya. Wajahnya yang penuh keteguhan itu seakan mengisyarakat orang untuk hanyut dalam gejolak jiwanya. Ya, semenjak Sekolah Anak Jalanan  itu porak poranda, kini tak ada tempat lagi untuk Rika mencurahkan perasaannya sebagai seorang anak. Udin telah tiada, tetapi semangatnya tetap hidup dan kini melekat pada diri Rika. Setidaknya dia dapat terus bermimpi dan menjaga mimpinya untuk memperoleh pendidikan yang layak. Barangkali ada orang yang mau mendengar keluh jiwanya. Angin senja  kembali menyeruak menebarkan aroma luka kehidupan jalan.

By: Dzawis Tsiqoh

Disorientasi Pemikiran Mahasiswa



Mahasiswa sebagai simbol intelektualitas. Kaum cerdas yang tidak hanya menggunakan hard skill tapi juga soft skill dalam menyikapi masalah-masalah sosial. Jikalau melihat sejarah masa lampau, mulai dari tahun 1908 hingga peristiwa yang masih segar di ingatan kita tahun 1998, semua peristiwa itu Tidak terlepas dari kaum intelektual.
Tahun 1908 lahirnya Budi Utomo sebagai tonggak supremasi kedaulatan kaum intelektual kala itu. Sumpah pemuda 28 Oktober tahun 1928, kemerdekaan Indonesia atas penjajahan Jepang tahun 1945, tak lepas dari kaum intelek yang berperan penting di dalamnya. Terakhir pada tahun 1998-sebagai pertanda lahirnya Reformasi-mahasiswa ikut andil dalam menggulingkan rezim Soeharto sekaligus mengakhiri era Orde Baru. Dari sekian catatan peristiwa bersejarah tersebut, kesemuanya dicetak oleh kaum cerdas yang mana mahasiswa adalah sebagai representasinya.
Dua belas tahun setelah kejadian terakhir-tahun 1998-mahasiswa mulai mengalami pembelokan pemikiran. Mahasiswa yang di gadang sebagai agen perubahan dan kontrol sosial, sekarang statement itu hanya sebagai ”penghias” dinding kamar mandi kampus-kampus. Mahasiswa yang pemikirannya seharusnya kritis dan peka terhadap realita yang ada di sekitar mereka, baik itu sosial ataupun kebangsaan sekarang tergantikan dengan bagaimana mendapat nilai bagus, cepat lulus, dan mendapatkan banyak fulus.
Tidak bisa dipungkiri faktor ekonomi dan lingkungan pasti ikut andil dalam “menyesatkan” mahasiswa sekarang ini. Sejak berangkat dari rumah mereka sudah mendapat wejangan dari orang tua agar cepat lulus supaya lekas mendapat kerja. Ada beban psikologi tersendiri bagi mereka mengingat biaya kuliah berasal dari orang tua sehingga ada semacam tanggung jawab kepada orang tuanya. Selain itu, di era globalisasi-zaman tanpa penghalang-pikiran mereka terkontaminasi dengan doktrin-doktrin budaya barat. Akibatnya cara berfikir mereka menjadi pragmatis dan hedonis, padahal di sisi  lain mereka mempunyai tanggung jawab yakni sebagai mahasiswa.
Perlu adanya pelurusan kembali orientasi mahasiswa sekarang. Mengembalikan khittah mahasiswa sebagai simbol kaum intelektual dan peka terhadap permasalahan. Adanya diskusi-diskusi kecil di sudut–sudut kampus yang membahas kebangsaan, keagamaan, ataupun sosial perlu dibangkitkan kembali dari mati surinya. Jika sudah seperti itu, maka abad Renaissance bagi mahasiswa niscaya terjadi.  




Membumikan Kesadaran Moral Terhadap Alam



Konon Indonesia masyhur sebagai negeri yang subur. Gugusan pulau membentang dari Sabang sampai Merauke mengibaratkan untaian zamrud berkilauan. Suburnya tanah membuat segala macam tanaman dapat hidup di Bumi Nusantara. Bahkan di dalam secarik lirik lagu Koes Ploes disebutkan bahwa karena sangat suburnya tongkat dan kayu pun akan tumbuh subur jika hanya ditancapkan di negeri ini.
Akan tetapi, kondisi di atas berbanding terbalik dengan kondisi Indonesia sekarang. Indonesia tidak lagi menjadi negeri subur dan menjanjikan ketenteraman bagi penghuninya. Salah satu penyebabnya karena  bencana datang silih berganti meluluhlantahkan Indonesia. Di penghujung tahun 2010 setidaknya ada tiga bencana besar di negeri ini mulai dari banjir bandang Wasior 4 Oktober 2010, gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai pada  25 Oktober 2010 hingga erupsi Gunung Merapi sehari setelah Tsunami Mentawai.
Selain dari faktor geografis,  bencana alam yang terjadi di Indonesia diakibatkan perilaku manusia yang merusak alam. Artinya bencana alam yang terjadi selama ini bukan semata-mata karena kondisi geografi suatu wilayah akan tetapi manusia juga ikut andil di dalamnya. Misalnya, penyebab tanah longsor bukan hanya kondisi tanah itu secara geografi berada di lahan miring akan tetapi kegiatan illegal loging yang dilakukan penebang liar juga menjadi penyebabnya. Oleh karena itu, jika kita mengacu kepada asumsi bahwa kerusakan alam disebabkan karena ulah manusia, ada benarnya juga. Bahkan di dalam kepercayaan Orang Jawa tempo dulu disebutkan bahwa “cokromanggilingan tunimba lahir”, artinya orang-orang yang tidak bertanggung jawab akan terkena dampak atau akibat dari ulahnya sendiri.   
Melihat permasalahan lingkungan di atas, dirasa perlu penanganan serius. Menjaga lingkungan alam (tindakan preventif) maupun merehabilitasi lingkungan yang rusak  bisa menjadi salah satu solusi untuk menyelamatkan alam. Di samping dua cara tadi, ada hal yang lebih urgen untuk mengatasi permasalahan ini, yakni menciptakan individu yang mempunyai kesadaran bahwa menjaga alam itu penting. Kesadaran ini bisa muncul jika individu dan lingkungan ada saling interaksi secara langsung sehingga ia merasa memiliki tanggung jawab kepada alam untuk menjaga dan memelihara kelestariannya.    .
Instansi Pendidikan
Salah satu gerbong untuk membentuk individu sadar kepada alam sejak dini ialah melalui pendidikan, sebab  pendidikan pada dasarnya adalah sebagai wahana untuk menyadarkan manusia atau dalam gagasan Paulo Freire  dikenal dengan conscientizacao (gagasan penyadaran). Maksud  dari teori ini Freire ingin memperhadapkan pendidikan dengan realitas yang terjadi di sekitar kita. Selain itu,  dunia pendidikan sampai saat ini  masih menjadi pusat gravitasi untuk mendidik manusia menjadi individu yang bertanggung jawab sebagaimana tercantum di dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003. Jadi ada kemungkinan keberhasilan lebih besar membentuk individu sadar lingkungan jika lewat wahana pendidikan dibandingkan lewat sosial, politik, maupun agama. 
Akan tetapi, rencana mencetak individu yang sadar lingkungan lewat lembaga pendidikan  saat ini seakan mustahil. Lembaga pendidikan sebagai pemegang mandat mencerdaskan anak bangsa tidak lagi sebagai wahana menyadarkan peserta didik tetapi justru sebagai wahana yang mengekang peserta didiknya. Dalam praktik pembelajaran di instansi pendidikan formal, siswa hanya dicekoki dengan teori-teori usang tanpa ada wujud pengaplikasian teori tersebut ke bentuk nyata.  Ditambah lagi lembaga pendidikan selama ini lebih mementingkan aspek kognitif saja sebagai parameter kualitas  siswa dan mengenyampingkan aspek afektif dan psikomotorik. Padahal dua hal ini (afektif dan psikomotorik) di mata kami lebih penting dibanding hanya sekedar angka-angka.
Planing membetuk individu sadar lingkungan sepertinya bisa terwujud jika menengok model pembelajaran di sekolah alam. Dari segi metode, proses belajar  di situ lebih mementingkan hal yang bersifat praktik dibandingkan teoritis. Adapun wujud pengaplikasiannya siswa berinteraksi langsung dengan alam tanpa terpaku lagi dengan teks sehingga secara emosional hubungan antara siswa dengan alam lebih erat. Dari segi pengajar, guru di sekolah alam bukan sebagai pemegang kekuasaan mutlak dalam hal mentransfer ilmu. Guru hanya sebatas teman belajar, mengarahkan siswa, serta membentuk karakter siswa agar menjadi individu yang bertanggung jawab dan mempunyai kesadaran menjaga alam. Dari segi arsitektur, berbeda dengan bentuk bangunan di sekolah formal pada umumnya yang dibatasi sekat-sekat,  bentuk bangunan di sekolah alam lebih menyatu dengan alam sehingga bisa menjadi faktor pendukung bagi siswa untuk mendekatkan diri dengan alam meskipun dalam proses belajar mengajar.       
  Jika disangkutpautkan dengan mencetak individu sadar alam sejak dini maka sekolah alam  bisa dikatakan sebagai wahana paling tepat karena peserta didik nantinya dihadapkan secara langsung dengan realita yang terjadi, yakni lingkungan alam. Lewat instansi ini pula usaha mencetak individu sadar lingkungan bisa berjalan efektif  sebab proses pembelajaran di sekolah alam terstruktur sesuai jenjang umur peserta didik sebagaimana di sekolah formal. Selain itu, melalui sekolah alam pengetahuan tentang alam menjadi lebih mengena. Dimana dengan pengetahuan itu, kita bisa menggunakannya untuk menaklukkan alam. Hal ini selaras dengan perkataan Sir Francis Bacon dalam Knowledge is Power bahwa Natura non Nisi Parendo Vincitur; alam hanya bisa ditaklukkan dengan cara memahami dan menaati hukum dan aturannya yang nantinya dapat berguna untuk menjaga kearifan lokal negeri ini. Dengan begitu, sekolah alam bisa menciptakan individu yang berkarakter, bertanggung jawab, dan  kritis terhadap fenomena alam di kehidupan mereka.
Redaksi ‘09

Pergerakan Lewat Tulisan


            Dewasa ini gerakan mahasiswa dalam bentuk demonstrasi mendapat stigma negatif dari masyarakat, padahal gerakan tersebut sebenarnya untuk mengawal kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Stigma itu muncul sebab demonstrasi di mata mereka hanya  sebagai wujud anarkisme yang diperbuat kaum intelektual. Ditambah lagi peran media masa selama ini yang hanya memberitakan perilaku arogan dalam demonstrasi, semakin menambah citra buruk gerakan mahasiswa tersebut. Masyarakat hanya menagkap fenomena bukan nomena dari aksi mahasiswa tersebut. Akibat stigma itulah, aktivis mahasiswa seakan kecewa dengan sikap orang yang sebenarnya dibelanya.
            Solusi baru tampaknya diperlukan bagi aktivis kampus dalam menyampaikan gerakan mereka guna ceck and balance terhadap kebijakan pemerintah. Meskipun secara praktiknya berbeda tapi secara eseninya sama, yakni mengawal kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.
             Salah satu solusi tersebut dan nampaknya paling efektif dewasa ini ialah melalui  tulisan. Tulisan dianggap penting sebagai sarana pergerakan mahasiswa sebab gagasan-gagasan, kritik, maupun solusi dari mahasiswa tersebut dituangkan dalam bentuk karya (baca: tulisan) shingga suara mahasiswa tersebut tidak hanya sebatas angin lalu yang lewat di telinga pejabat pemerintahan, terlebih lagi jika karya itu ditulis di media masa ataupun dalam  bentuk buku . Hal itu dikarenakan tulisan tersebut menjadi dokumen penting yang suatu saat dapat dapat dibaca ulang oleh para pejabat dan khalayak ramai.
            Pergerakan lewat tulisan, itulah nama yang diberikan penulis untuk gerakan mahasiswa tipe ini. Meskipun sampai saat ini gerakan ini masih menempati second line di belakang  gerakan masif akan tetapi pergerakan ini mempunyai nilai prestisi yang lebih tinggi. Sebab tidak semua aktivis kampus mempunyai skill untuk menulis tulisan yang kritis dan memerahkan telinga pejabat. Butuh keteitian, keahlian, serta kecerdasan untuk mengolah isu-isu yang berkembang di masyarakat kemudian dibahasakan dalam bentuk tulisan yang mana tulisan itu dapat membuat opini publik di masyarakat.