Dewasa ini gerakan mahasiswa dalam bentuk demonstrasi mendapat stigma negatif dari masyarakat, padahal gerakan tersebut sebenarnya untuk mengawal kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Stigma itu muncul sebab demonstrasi di mata mereka hanya sebagai wujud anarkisme yang diperbuat kaum intelektual. Ditambah lagi peran media masa selama ini yang hanya memberitakan perilaku arogan dalam demonstrasi, semakin menambah citra buruk gerakan mahasiswa tersebut. Masyarakat hanya menagkap fenomena bukan nomena dari aksi mahasiswa tersebut. Akibat stigma itulah, aktivis mahasiswa seakan kecewa dengan sikap orang yang sebenarnya dibelanya.
Solusi baru tampaknya diperlukan bagi aktivis kampus dalam menyampaikan gerakan mereka guna ceck and balance terhadap kebijakan pemerintah. Meskipun secara praktiknya berbeda tapi secara eseninya sama, yakni mengawal kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.
Salah satu solusi tersebut dan nampaknya paling efektif dewasa ini ialah melalui tulisan. Tulisan dianggap penting sebagai sarana pergerakan mahasiswa sebab gagasan-gagasan, kritik, maupun solusi dari mahasiswa tersebut dituangkan dalam bentuk karya (baca: tulisan) shingga suara mahasiswa tersebut tidak hanya sebatas angin lalu yang lewat di telinga pejabat pemerintahan, terlebih lagi jika karya itu ditulis di media masa ataupun dalam bentuk buku . Hal itu dikarenakan tulisan tersebut menjadi dokumen penting yang suatu saat dapat dapat dibaca ulang oleh para pejabat dan khalayak ramai.
Pergerakan lewat tulisan, itulah nama yang diberikan penulis untuk gerakan mahasiswa tipe ini. Meskipun sampai saat ini gerakan ini masih menempati second line di belakang gerakan masif akan tetapi pergerakan ini mempunyai nilai prestisi yang lebih tinggi. Sebab tidak semua aktivis kampus mempunyai skill untuk menulis tulisan yang kritis dan memerahkan telinga pejabat. Butuh keteitian, keahlian, serta kecerdasan untuk mengolah isu-isu yang berkembang di masyarakat kemudian dibahasakan dalam bentuk tulisan yang mana tulisan itu dapat membuat opini publik di masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar