Semburat warna jingga di langit menyeruak dan bermekaran menandakan waktunya burung-burung kembali ke sarang. Suara bising kendaraan yan berlalu lalang semakin keras terdengar, dentuman klakson mencerminkan kendaraan yang sudah tak sabar untuk sesegera mengakhiri perjalanan. Tempat itu porak poranda, buku-buku yang hangus terbakar hanya menyisakan debu yang berterbangan dihempas angin sore. Gadis kecil itu masih mengenakan raut muka kesedihan dan kemarahan. Sedari tadi siang ia hanya mengalirkan air mata tanpa kunjung henti, kini matanya terlihat sayu dan sembam. Pipinya yang belepotan arang yang bercampur air mata tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sesekali ia hanya mengorek timbunan bakaran itu, berharap barangkali ia masih mendapati lembaran-lembaran kertas yang tak ikut terbakar. Kemudian ia kembali merenung, rambut sebahunya yang kemerah-merahan karena sering tersengat matahari, ia biarkan diterpa angin sore yang bercampur asap knalpot. Dalam hatinya berharap anginpun iku menerbangkan kesedihannya kini.
Disisi lain keributan besar tampaknya baru saja terjadi, bebatuan berlumuran darah bereceran di jalan. Pemblokiran tengah terjadi, Nampak police line membatasi jalanan itu. Preman jalanan digelandang polisi, pekikan sirine ambulan meraung-raung memecahkan langit jingga sore itu, memudarkan kerumunan yang dari tadi terus merayap dijalan raya.
Udin, terbaring lemah di ruang ICU, seluruh tubuhnya tak dapat merasakan apa-apa, hambar, untung saja nadinya masih berdenyut, meskipun tak beraturan. Cairan infus mengucur tetes demi tetes ke dalam tubuhnya. Mahasiswa semester 5 Fakultas hukum di sebuah Perguruan Tinggi itu terluka parah dalam peristiwa sore hari itu, seakan semua darahnya muncrat dari tubuhnya, tulang-tulangnya remuk, syaraf-syarafnya putus. Benar-benar mengerikan peristiwa sore itu, terkadang manusia justru lebih buas dari binatang buas..
Peristiwa itu berawal ketika Udin bersama beberapa teman aktifis sosial hendak mengajarkan beberapa mata pelajaran layaknya sekolah formal kepada anak-anak jalanan. Sebuah bangunan kumuh di pinggir kali tak jauh dari jembatan layang Semboja telah disulap menjadi sebuah bangunan sekolah, meski tak layak disebut bangunan sekolah. Ya, ini adalah sekolah yang didirikan Udin bersama teman-temannya sesama aktifis sosial. Memberikan peluang agar anak-anak yang tumbuh diantara kepenatan jalan raya dan asap knalpot yang tiap hari mereka hirup untuk merasakan pendidikan sekolah adalah tujuan Udin untuk membalas budi karena dirinya kini bisa merasakan bangku pendidikan.
Siang itu,ruangan tempat yang hendak didatangi Udin dan teman-temannya telah penuh dengan anak-anak jalanan yang ingin belajar Tiba-tiba segerombolan preman datang dan mengacak-acak seisi bangunan sekolah itu, buku-buku dibakar habis, anak-anak lari terbirit-birit ketakutan. Hanya Rika yang tetap ditempatnya, ia hanya bisa menyaksikan preman-preman itu merusak dan mengobrak-abrik tempat ia belajar. Terdengar suara keributan dari sini, entah dari mana asalnya yang jelas itu tak jauh dari sini.
“ Mau apa kalian?”, pekik Udin kepada preman-preman yang menghadangnya di tengah jalan dekat rel kereta api tak jauh dari jembatan layang.
“ Jangan belagak tak tahu salah Din, kau ini dulu teman kami, tapi lihat sekarang kau bergaya menggurui kami, apa Kau tak tahu akarmu dari mana?” ujar Kardi, salah satu preman tersebut.
“Iya, Aku tahu”, Jawab Udin
Memang, Udin dulu juga tumbuh sebagai anak jalanan, tapi ia lebih beruntung dari teman-temannya yang lain sesama anak jalanan. Dengan ketekunannya dan kegigihannya untuk belajar di Sekolah Anak Jalanan yang waktu itu berdiri, Ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk mengenyam pendidikan di sekolah formal. Oleh karena itu , ia dapat menyandang predikat sebagai seorang mahasiswa. Sedangkan teman-temannya yang lain tidak kuat untuk bermimpi terlalu jauh, beban kehidupan sebagai seorang anak yang tumbuh di jalanan sangat berat untuk mereka jalani. Tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuat mereka banyak yang berperilaku negatif. Berbeda dengan Udin yang sadar dengan keberadaannya sebagai seorang anak yang berhak untuk menerima pendidikan tidak berbeda dengan anak-anak lain yang juga mempunyai potensi dan bakat yang dapat dikembangkan. Buku yang pernah ia baca dulu terekam jelas dalam memorinya, memang pada masa anak-anak seperti itu otak yang memuat 100-200 milyar sel otak siap dikembangkan serta diaktualisasikan untuk mencapai tingkat perkembangan potensi tertinggi dan pada perkembangannya, otak manusia mencapai kapasitas 50 % pada masa anak usia dini. Setidaknya itu yang pernah ia pelajari.
“ Berarti, kamu tahu apa yang aku maksud kan? Pendapatan kami berkurang gara-gara sekolah bututmu itu?”, ujar preman lain yang dulu juga teman sebaya Udin.
“Apa kalian tidak mau anak-anak itu mendapatkan pendidikan? Kenapa kalian menghalanginya?”, Udin dengan tegas menjawab mereka, meskipun tubuhnya telah dihantam beberapa pukulan keras, hingga rasa sakit dan sesak terasa di dadanya.
“Jangan belagak peduli Kau, bagi kami hidup kalo tidak mendapat uang, lebih baik mati saja dan Kau telah merampas uang Kami”, Kardi semakin geram.
“Kalian akan kulaporkan polisi jika mengancam kami”, celetuk salah satu teman Udin yang malah membuat preman-preman itu membabi buta menghajar Udin.
Pukulan demi pukulan terus saja mendarat di tubuh Udin, lontaran-lontaran batu mengenai sekujur tubuhnya. Sedang teman-teman Udin yang lain hanya bisa menyaksikan kawannya itu diremuk-remuk. Salah satu dari mereka berhasil mencuri kesempatan untuk memanggil polisi, selang beberapa saat polisi datang dan berhasil meringkus beberapa preman termasuk Kardi.
Keadaan Udin sangat memprihatinkan, seluruh tubuhnya berlumuran darah, sesegera mungkin ia dilarikan ke rumah sakit. Mobil ambulan yang telah datang, cepat-cepat melaju di atas aspal yang disesaki oleh kendaraan-kendaraan. Anak yatim piatu ini memang malang nasibnya. Entah akan berapa lama ia akan terbaring di rumah sakit, yang jelas kondisinya saat ini ada di ujung tanduk.
***
Terdengar sayup bunyi kerincingan yang terkalahkan dengan suara bising kendaraan lamat-lamat juga terdengar lirihan lagu dari bibir kecil seorang anak perempuan. Rambutnya seperti rambut jagung, kulitnya gosong terbakar sinar matahari. Telapak tangannya yang mungil menepuk nepukkan kerincingan dari tutup botol bekas yang di pakukan pada sebatang kayu. Tas usang yang terbuat dari karung beras pun nampak menyelempang di bahunya. Berisikan kaleng bekas dan beberapa lembaran kertas serta koran-koran bekas terlihat memenuhi tas nya. Wajahnya yang penuh keteguhan itu seakan mengisyarakat orang untuk hanyut dalam gejolak jiwanya. Ya, semenjak Sekolah Anak Jalanan itu porak poranda, kini tak ada tempat lagi untuk Rika mencurahkan perasaannya sebagai seorang anak. Udin telah tiada, tetapi semangatnya tetap hidup dan kini melekat pada diri Rika. Setidaknya dia dapat terus bermimpi dan menjaga mimpinya untuk memperoleh pendidikan yang layak. Barangkali ada orang yang mau mendengar keluh jiwanya. Angin senja kembali menyeruak menebarkan aroma luka kehidupan jalan.
By: Dzawis Tsiqoh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar