Mahasiswa sebagai simbol intelektualitas. Kaum cerdas yang tidak hanya menggunakan hard skill tapi juga soft skill dalam menyikapi masalah-masalah sosial. Jikalau melihat sejarah masa lampau, mulai dari tahun 1908 hingga peristiwa yang masih segar di ingatan kita tahun 1998, semua peristiwa itu Tidak terlepas dari kaum intelektual.
Tahun 1908 lahirnya Budi Utomo sebagai tonggak supremasi kedaulatan kaum intelektual kala itu. Sumpah pemuda 28 Oktober tahun 1928, kemerdekaan Indonesia atas penjajahan Jepang tahun 1945, tak lepas dari kaum intelek yang berperan penting di dalamnya. Terakhir pada tahun 1998-sebagai pertanda lahirnya Reformasi-mahasiswa ikut andil dalam menggulingkan rezim Soeharto sekaligus mengakhiri era Orde Baru. Dari sekian catatan peristiwa bersejarah tersebut, kesemuanya dicetak oleh kaum cerdas yang mana mahasiswa adalah sebagai representasinya.
Dua belas tahun setelah kejadian terakhir-tahun 1998-mahasiswa mulai mengalami pembelokan pemikiran. Mahasiswa yang di gadang sebagai agen perubahan dan kontrol sosial, sekarang statement itu hanya sebagai ”penghias” dinding kamar mandi kampus-kampus. Mahasiswa yang pemikirannya seharusnya kritis dan peka terhadap realita yang ada di sekitar mereka, baik itu sosial ataupun kebangsaan sekarang tergantikan dengan bagaimana mendapat nilai bagus, cepat lulus, dan mendapatkan banyak fulus.
Tidak bisa dipungkiri faktor ekonomi dan lingkungan pasti ikut andil dalam “menyesatkan” mahasiswa sekarang ini. Sejak berangkat dari rumah mereka sudah mendapat wejangan dari orang tua agar cepat lulus supaya lekas mendapat kerja. Ada beban psikologi tersendiri bagi mereka mengingat biaya kuliah berasal dari orang tua sehingga ada semacam tanggung jawab kepada orang tuanya. Selain itu, di era globalisasi-zaman tanpa penghalang-pikiran mereka terkontaminasi dengan doktrin-doktrin budaya barat. Akibatnya cara berfikir mereka menjadi pragmatis dan hedonis, padahal di sisi lain mereka mempunyai tanggung jawab yakni sebagai mahasiswa.
Perlu adanya pelurusan kembali orientasi mahasiswa sekarang. Mengembalikan khittah mahasiswa sebagai simbol kaum intelektual dan peka terhadap permasalahan. Adanya diskusi-diskusi kecil di sudut–sudut kampus yang membahas kebangsaan, keagamaan, ataupun sosial perlu dibangkitkan kembali dari mati surinya. Jika sudah seperti itu, maka abad Renaissance bagi mahasiswa niscaya terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar